Diayun-ayun Sungai Ayung

Arung Jeram di Sungai Ayung Ubud Bali
Pada hari terakhir di tahun 2014 lalu, Rabu (31/12), bersama dua rekan se-profesi saya janjian untuk jalan-jalan ke suatu Mal (tidak jalan-jalan aja sih, kami juga berburu year end sale) *pengakuandosa* :p . Ya, kebetulan karena besoknya koran tidak terbit ada waktu untuk lebih santai menikmati hari tanpa memikirkan deadline. Nah, pas santai sambil snacking obrolan mengalir hingga pada tahap menertawakan kekonyolan kami selama setahun ini. Banyak pengalaman kami dan khususnya yang saya alami selama setahun ini. Salah satunya sampailah pada pengalaman dan cerita saat dua di antara kami mengikuti press gathering di Bali akhir November 2014 lalu.
Pergi ke Bali memang bukan pengalaman pertama saya. Namun menjajal suatu wahana untuk berpetualang alam yakni, rafting atau arung jeram di Sungai Ayung Desa Ubud Kabupaten Gianyar adalah yang pertama kali bagi saya. Melalui penyedia jasa olahraga air Sobek Rafting hari itu, Jumat (28/11), saya menjadi salah satu orang yang beruntung merasakan sensasi mengarungi Sungai Ayung. Mengapa saya beruntung? Sebab saya tak perlu mengeluarkan biaya sendiri. Jika saya membayar sendiri maka saya harus merogoh kocek sebesar Rp 400ribu. Sobek Rafting menerapkan tarif arung jeram untuk turis domestik usia 7-15 tahun sebesar Rp 350ribu, sedangkan untuk usia 16-65 tahun sebesar Rp 400ribu. Sementara bagi turis asing, harganya lebih mahal hampir dua kali lipat, yakni 79 dollar AS.
Karena ini kali pertama, saya sudah membayangkan yang tidak-tidak tentang perjalanan saya menyusuri sungai itu.
Satu pikiran konyol saya yaitu, apakah perahu yang kami naiki nanti bisa membawa tubuh saya yang cukup ‘’seksi’’ ini selama petualangan susur sungai?.
Tapi syukurlah, pemandu Sobek Rafting meyakinkan bisa. Hasrat saya untuk menantang diri sendiri menjalani petualangan mengarungi derasnya Sungai Ayung itu semakin besar.
Petualangan menegangkan saya bersama para rekan sesama kuli tinta dimulai dengan menuruni anak tangga menuju tepian Sungai Ayung. Wuaaahhh, langsung menelan ludah dan mual rasanya ketika pemandu perahu di kelompok kami, Pak Hat menuturkan bahwa ada 500 anak tangga yang harus dilewati untuk sampai ke tepi sungai. Perjalanan yang sangat sangat menguras tenaga bagi saya pribadi, tapi ternyata perasaan itu juga dirasakan oleh teman lainnya, hahahaha. Dengan mengenakan helm dan rompi pelampung, kami menuruni ratusan anak tangga hingga kaki gemetar sambil menenteng dayung masing-masing. Dan suatu kelegaan dan kelelahan yang terbayar ketika akhirnya melihat bibir sungai dan perahu karet yang akan kami naiki.
Ternyata teman-teman yang satu kelompok dengan saya sudah sampai duluan dan hanya menunggu saya untuk memulai petualangan arung jeram itu. (wakakakak, maaf telah menunggu agak lama). Di atas perahu Pak Hat sebagai pemandu menyampaikan pengarahan mengenai bagaimana mendayung nantinya.
‘’Kalau saya bilang dayung maju, dayung dari depan ke belakang, kalau mundur, dari belakang ke depan, kalau stop, letakkan dayung di atas paha,’’ katanya dengan nada tegas.

Lalu perahu rombongan kami pun memulai perjalanan. Satu perahu diisi empat hingga lima orang peserta ditambah dengan satu pemandu. Pada perahu kami hanya diisi lima orang termasuk pemandu. Kebetulan saya bersama dengan nahkoda-nahkoda tangguh seperti, Pak Didiet, Mas Zacky, dan Mas Timmy. Energi dan semangat mereka hebat selama mendayung dan mengarungi Sungai Ayung yang kurang lebih panjangnya 12 kilometer dan ditempuh kira-kira dua jam itu. Selama berarung jeram saya merasakan kesetiakawanan, kerja sama, koordinasi yang solid antara kami dan pemandu. Apalagi, pada awal perjalanan dengan kondisi duduk yang tidak nyaman membuat saya tidak bisa turut mendayung. Akhirnya, saya hanya disuruh duduk saja selama perjalanan. *benar-benar berasa seperti tuan putri* (hehehehe, sekali lagi maafkan saya teman-teman)


Perjalanan mengarungi Sungai Ayung sangat menyenangkan. Benar-benar petualangan alam yang belum pernah saya rasakan. Saya melihat sendiri Keagungan Allah SWT yang sangat indah di Sungai Ayung. Pepohonan tampak rimbun seolah memayungi kami yang tengah berperahu karet. Tanaman yang menggantung, tebing-tebing curam, suara burung berkicau merdu, serangga mendesis, batu-batu kali yang besar di tengah arus sungai yang deras. Tak hanya itu, kami juga menjumpai air terjun kecil yang terdapat di beberapa titik di tepi sungai. Sehingga saya tak henti-hentinya mengucap Allahu Akbar dan Subhanallah saking terpesonanya. Benar-benar Ayung yang dalam bahasa Bali artinya cantik/ayu.




Sekitar satu jam berperahu karet, kami berhenti sejenak di tepi sungai untuk istirahat. Di tepian sungai terdapat warung yang menyediakan beragam makanan dan minuman seperti mi instan, kelapa muda, minuman soda, hingga air putih. Namun mayoritas dari rombongan kami lebih memilih untuk berfoto-foto narsis daripada istirahat, seakan tidak ada rasa lelah. Para pemandu juga beristirahat sambil menambah angin pada perahu karet yang kami naiki (termasuk perahu di kelompok saya -__- ).
Oh ya, selama perjalanan tadi kami juga mengikuti games yang diadakan oleh pengelola wahana arung jeram, mulai mencari bendera, mendayung cepat dengan berputar, menyelamatkan kawan yang pura-pura tenggelam, hingga yang terakhir adu kecepatan untuk mencapai finish.

Ketika hampir mencapai titik finish, ternyata ada seseorang dari tim Sobek Rafting yang mengambil gambar rombongan dari tepi sungai. Namun, kami tidak begitu memperhatikan karena kami sibuk fokus dan berkonsentrasi dalam adu kecepatan mendayung untuk menjadi pemenang di titik finish. Hahahaha, awalnya Pak Hat pemandu kami tidak yakin tim kami bisa menang (karena mungkin ada saya dan hanya empat orang di kelompok kami). Menurut dia, lebih baik keselamatan teman daripada sampai di titik akhir duluan tapi terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun, kami tidak putus asa dan berusaha mematahkan kekhawatiran itu. Saya pun langsung mengambil dayung yang dari tadi tidak saya gunakan untuk turut menambah semangat dan kekuatan teman-teman hingga bisa sampai ke finish terlebih dulu. Dan akhirnya, dengan teriakan yel-yel yang mengobarkan semangat kami, kelompok kami berhasil mencapai finish pada posisi kedua, yeeeaaacchhhh…!!!!
Bahagia rasanya, semua rombongan kami pun dari perahu karet langsung lompat ke sungai untuk merayakan petualangan yang luar biasa hari itu. Kemudian, kami berbilas di pancuran air dan mengeringkan badan dengan handuk yang disediakan pihak Sobek Rafting. Setelah itu kami menyantap makan siang lengkap yang sudah tersaji di sana. Sambil beristirahat kami berbagi cerita tentang hal lucu, menggelikan, hingga konyol selama berarung jeram tadi. Lalu setelah itu kami dipersilakan untuk kembali ke pos pertama tempat awal kami memulai petualangan.
Dan apakah perjuangan kami sudah selesai??? Big no no no, ternyata belum kawan…karena kami harus menaiki 300 anak tangga untuk bisa sampai ke atas. OMG…serius ini pakai kaki untuk mencapai ke pos pertama, bukan menggunakan lift.
Happy Adventures everyone…^^

Ya, walau rela kaki njarem alias pegal-pegal pada hari itu, bahkan sampai dua hari kemudian, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan kegembiraan dan kebahagiaan kami ketika mengarungi Sungai Ayung. So, adventures it’s not about having time, but it’s about making time!!! Happy Adventures everyone…

0 comments