Keelokan Curug Benowo


Curug Benowo Desa Kalisidi Kabupaten Semarang
photo credit: @olimesin 

TIDAK butuh waktu lama untuk merencanakan perjalanan saya ke Curug Benowo di Desa Kalisidi Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, akhir Mei lalu. Bahkan untuk memutuskan menuju kesana bisa dibilang mendadak, kurang dari 24 jam dan hanya lewat chat Blackberry Messenger

Saya bersama adik dan keluarga sahabat saya memanfaatkan long weekend kali itu untuk singgah ke objek wisata yang belum pernah kami kunjungi tersebut. Sebelumnya saya hanya tahu Curug Lawe dari teman saya sudah pernah kesana, namun saya tidak tahu kalau di lokasi tersebut ada air terjun lain yaitu Curug Benowo.

Kami sengaja berangkat pagi dari rumah yakni sekitar pukul 08.00, alasannya tentu saja biar tidak panas selama perjalanan dan mencari suasana sepi saat menikmati alam disana. Awalnya, kami ingin berangkat naik motor karena mengingat lokasi objek tidak jauh dari rumah kami yang berada di Kota Semarang bagian Barat. Namun, akhirnya teman saya memutuskan naik mobil dan menjemput saya untuk menuju ke curug. Perjalanan dari rumah hingga Desa Kalisidi memakan waktu kurang lebih 45 menit hingga satu jam dengan jarak tempuh 20km melewati Jalan Gunung Pati Semarang. Lalu sampai daerah Sumurrejo Kecamatan Gunungpati, kanan jalan ada papan penunjuk jalan menuju Ponpes Al Mannan Sumur Gunung lalu masuk hingga bertemu plang bertulis Air Terjun Curug Lawe dan ikuti jalan tersebut.
Pemandangan Kebun Cengkeh 

Perjalanan menuju Curug Lawe sangat mengasyikkan. Hawa sejuk udara pedesaan sudah terasa, belum lagi mata kami disuguhi pemandangan Gunung Ungaran dari kejauhan dan pohon cengkeh di sisi kanan dan kiri jalan. Whuaaa...kembali ke alam memang luar biasa, jauh dari polusi dan hiruk pikuk suasana perkotaan. Kami pun merasa ngutha kebalikan dari ndeso, karena jarang main ke desa.

Akhirnya, kami sampai di pintu gerbang objek wisata Curug Lawe Desa Kalisidi. Setelah membayar tiket masuk senilai Rp 4.000/orang dan parkir mobil Rp 5.000, perjalanan menuju air terjun pun dimulai.


Gerbang Selamat Datang Curug Lawe
Peta menuju Curug Lawe dan Curug Benowo
Trek pertama adalah jalan mendaki yang harus kami lalui kira-kira sepanjang 50 meter. Lumayanlah, untuk pemanasan sebelum jalur selanjutnya yang katanya lebih aduhai. Setelah melalui jalur pertama, kemudian kami harus menuruni anak tangga, lalu menemukan jalan setapak yang datar. Namun ini tidak sekadar datar-datar saja, sebab sisi kiri jalan setapak tersebut adalah jurang, dan jalan itu hanya bisa dilewati satu orang. Sehingga, jika ada orang yang datang dari berlawanan arah harus bergantian lewatnya. Maka berhati-hatilah dan tetap fokus serta konsentrasi bagi yang takut ketinggian (seperti saya). Sebab, cobaan ini bikin grogi dan deg-degan seperti ketemu gebetan, hahaha... #upsss
jalur perjalanan Curug Lawe-Benowo

Spanduk peringatan dipasang supaya pengunjung berhati-hati 

trek jalan setapak di tepi jurang


Peringatan!
Akan tetapi, perkara ketemu gebetan, eh tantangan jalan setapak tadi maksudnya, pasti juga ada perasaan bahagia lho. Persoalannya, kami disuguhi suara dan penampakan binatang-binatang seperti, kupu-kupu, belalang, jangkrik, katak, bahkan jika beruntung bisa bertemu dengan lutung (kera) di pepohonan disana. Selain hewan tersebut, banyak tanaman dan bunga-bunga liar yang indah yang dapat dinikmati selama perjalanan, apalagi ditambah suara gemericik air dari saluran irigasi Desa Kalisidi dan sungai di bawah jurang. Saya pun tak lupa menghirup udara di sana yang benar-benar sejuk (mumpung gratis...) dan mengutip kata Syahrini, I feel free...



Pemandangan selama perjalanan 

Area pandang Lutung


Pemandangan selama perjalanan

tanaman dan bunga liar
photo credit: @ehandriana
Hingga akhirnya, perjalanan kami bertemu dengan jembatan berpalang merah. Entah dari kejauhan melihat jembatan itu nyali saya sudah ciut. Sungguh, seandainya ada jalan lain tanpa melewati jembatan itu mungkin saya pilih jalan itu. Namun, apa daya tidak ada pilihan lain, saya harus melewati jembatan yang dibawahnya jurang curam dengan aliran air sungai yang deras. 
jembatan berplang merah alias jembatan jahanam (menurut versi saya). Tuh lihat, papannya bolong-bolong hiiiii...
Saya pun tidak berani melihat ke bawah ataupun menatap jalan dari kayu yang saya lalui. Dengan tatapan ke depan, tahu-tahu ''brukkk..."  kaki saya kejeblos pada papan kayu yang berlubang. Ujug-ujug atiku rasane koyok meh coplok (seketika jantung saya rasanya mau lepas). Adik dan teman saya kaget dan berusaha mau menolong, tapi saya mencoba mengatasi masalah saya itu sendiri. Sambil menenangkan diri, saya pegang plang jembatan tersebut dan menarik kaki saya perlahan. Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan nyawa saya. Ini salah satu hikmah dalam setiap perjalanan, petualangan ternyata mengajarkan hal-hal baru seperti memecahkan masalah yang datang tiba-tiba dan mengalahkan ketakutan yang ada dalam diri kita. Selanjutnya, kami pun meneruskan perjalanan hingga bertemu dengan persimpangan jalan antara ke Curug Lawe dan Curug Benowo.

Kami pun dihadapkan pada pilihan mau menuju kemana. Ya, karena kami anti mainstream maka akhirnya kami memilih ke arah Curug Benowo. Menuju Curug Benowo kami harus menempuh perjalanan 800 meter lagi. Jadi total jarak perjalanan kurang lebih 2 km. Medan menuju curug juga cukup menantang yaitu naik turun bukit berbatu dan melewati empat jembatan kayu.
medan menuju Curug Benowo

Pendakian bukit berbatu

Melewati empat jembatan kayu
Yup, walaupun dengan menggeh-menggeh alias nafas tersenggal-senggal kami tidak putus asa untuk menyibak dan melihat langsung rahasia alam di Curug Benowo. Batin saya, kayak apa sih Curug Benowo itu?

Curug Benowo Desa Kalisidi Ungaran Kabupaten Semarang Jawa Tengah
Ternyata dan ternyata, memang luar biasa pemirsa...SUNGGUH ELOK!!! Dari jarak pandang 200 meter saja air terjun ini sudah membuat kami terpukau. Ya..ya..ya..saya melalui meyakini memang selalu ada sesuatu yang terbayarkan dari setiap usaha dalam perjalanan untuk melihat tempat-tempat indah. Salah satunya, ya menyaksikan sendiri keindahan Curug Benowo yang dimiliki alam dan diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Besar dengan mata kepala saya sendiri. Ya, meskipun akses menuju kesana masih seadanya, tetapi masyarakat yang pantang menyerah dapat menikmati sebuah keindahan dari air terjun yang eksotis itu.
Curug Benowo dari jarak pandang 200 meter


Namun tidak hanya melihat secara langsung Curug Benowo yang membuat saya bahagia. Ada sesuatu yang membuat saya lebih bahagia, yakni menemukan cekungan mata air yang bersumber dari air terjun tersebut. Ya, mungkin bisa dibilang ini anakan air terjun. 
anakan air terjun Benowo
Awalnya, saya sempat mikir saat mau terjun ke sumber air itu karena tidak bawa baju ganti. Namun, teman dan adik saya bilang, ''Ah, paling nggko yen balik tekan ngisor garing dewe (Ah, nanti kalau turun pulang sampai bawah akan kering sendiri).''
  
Sumber air Curug Benowo


Pose dulu sebelum nyeburrrr....

Akhirnyaaa nyeburrrr....segerrrrr
Akhirnya saya nyeburrrr dan bahagiaaaa...Lalu saya teringat pada pengalaman masa kecil yang suka main di sungai dekat rumah simbah. Bermain di air terjun kecil di Curug Benowo ini seperti menemukan jacuzi alam pribadi. Semburan air yang mengalir dari atas itu benar-benar bikin rileks dan tubuh rasanya seperti dipijit. Luar biasa enak di seluruh jiwa raga ini! 

Selama kurang lebih satu jam kami bermain di jacuzi alam itu dan tentunya kami pun tetap narsis dan eksis dengan berbagai gaya foto, hahaha... Urat malu pun putus saat pengunjung melihat tingkah kekonyolan kami di kolam renang dadakan itu. 


Narsis habissss....

Wajah-wajah bahagia mandi di Curug Benowo

Inilah istimewanya alam, jika kita mau menyatu dengannya tidak hanya kebahagiaan dan pikiran yang kembali segar yang kita dapatkan. Akan tetapi, juga membuat kami bersyukur atas apa yang telah diciptakan Tuhan pada alam semesta ini. Sehingga, sudah sepantasnya bagi kita untuk turut merawatnya. 

Maka tidak salah jika pengelola swadaya Curug Lawe dan Curug Benowo, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Kalisidi, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ini menggembar-gemborkan peringatan kepada pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan dan turut merawat lingkungan. Ya, walaupun belum banyak tempat sampah di sepanjang perjalanan menuju curug tetapi pengunjung harus sadar membawa atau tidak meninggalkan sampah di lokasi objek wisata. 

Sedangkan terkait akses, ini perlu menjadi perhatian bagi banyak pihak terutama Pemerintah untuk membuat atau paling tidak memperbaiki infrastruktur yang ada di tempat tersebut agar perjalanan pengunjung semakin nyaman. Sebab, masih dijumpai jalan yang hampir longsor, jembatan yang dibuat seadanya, dan papan kayu yang berlubang di jembatan panjang yang merupakan akses utama menuju air terjun. Pemerintah perlu tanggap bahwa objek wisata juga merupakan potensi yang bisa digarap demi kemajuan daerah dan negara.


akses jalan berbatu Curug Benowo
Kendati demikian, yang terpenting adalah mempersiapkan perjalananmu saat ingin berkunjung ke Curug Lawe dan Curug Benowo;

  1. Usahakan berangkat pagi dari tempat tinggalmu, karena semakin pagi kamu akan lebih menikmati perjalanan menuju curug. Kamu akan mendapat bonus menghirup udara segar dan tidak banyak bersimpangan dengan pengunjung lain saat berjalan di jalan setapak di saluran irigasi Desa Kalisidi Ungaran.
  2. Gunakan alas kaki yang nyaman. Bisa pakai sepatu atau sandal gunung, karena akses dan jalan menuju lokasi medannya berbatuan dan licin.
  3. Pakai pakaian yang menyerap keringat dan bawa baju ganti kalau kamu ingin berbasah-basahan saat sampai air terjun. Oh ya, jangan lupa bawa topi, selain bikin tambah keren juga bisa melindungi wajahmu dari sengatan matahari.
  4. Bawa perbekalan dan air minum, jangan sampai kamu kehausan dan dehidrasi selama perjalanan. Sebab, trek ke air terjun menanjak dan cukup menguras energi.
  5. Jangan lupa bawa kantong plastik untuk wadah sampah-sampah dari perbekalan yang kamu bawa. Ingat jangan buang sampah sembarangan!
  6. Dan kalau kamu orang-orang yang mainstream, jangan lupa bawa gandengan seperti, pacar, suami, papa, mama, adik, kakak, gebetan, hingga teman tapi mesra. Sebab, ada medan-medan yang perlu kamu pegangan tangan untuk menjaga langkahmu. Tapi kalau kamu anti kemapanan bawa aja tongkat atau kayu aja selama perjalanan sebagai bukti kamu strong dalam perjalananmu yang sendirian, hehehe...
narsis apalah apalah 
Oke man-teman, kira-kira seperti itu pengalaman saya saat berkunjung di salah satu objek wisata di Jawa Tengah yang anti mainstream indahnya dengan dengan wisata-wisata lainnya. Terus melangkah dan jangan lupa bahagia, Happy adventures and traveling everyone ^^

3 comments

  1. Ah keren juga curugnya, kalau dulu aku pernahnya ke Semirang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo ke Curug Benowo langsung lanjutkan ke Curug Lawe, Mas..

      Hapus
    2. klo ke Curug Benowo langsung lanjutkan ke Curug Lawe, Mas..

      Hapus