Berdaya dari Lembaran Kain Batik


Warga Kampung Alam Malon yang bekerja di Batik Zie sedang menjemur kain batik pewarna alam

Berkunjung ke Kampung Alam Malon (1)

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah merilis pada Maret 2017, jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan sebanyak 43.030 jiwa dibandingkan September 2016. Pada bulan Maret jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah mencapai 4,45 juta orang atau 13,01% dari total jumlah penduduk, sedangkan bulan September sebanyak 4,49 juta orang atau 13,19%.

Pemberdayaan masyarakat yang masif khususnya di perdesaan menjadi salah satu kunci penurunan kemiskinan, seperti di Kampung Malon Gunungpati Kota Semarang. Bagaimana masyarakat disana bergerak dan berdaya untuk menurunkan garis kemiskinan? Simak cerita saya saat berkunjung kesana...

MATAHARI belum menampakkan sinarnya, tetapi Aniyah (51) sudah sibuk di dapur memasak Siomay dan Batagor yang setiap hari dijual suaminya, Sanawi (52) di sekitar Gunungpati Kota Semarang. Setelah mengantar kepergiaan suaminya untuk berjualan, 'dapur' Aniyah yang lain juga mulai sibuk. Dia mengeluarkan kompor kecil, menyiapkan kain dan gawangan, bahan-bahan pewarna alam, serta kursi untuk membatik di teras rumah. 

Seperti itulah rutinitas salah satu warga Desa Malon RT 03 RW 06 Kelurahan Gunungpati Semarang. Setahun belakangan ini ibu empat anak itu memiliki kegiatan baru, yakni membatik dengan bahan-bahan pewarna alam yang merupakan potensi desa tersebut. Aniyah yang semula tidak tahu sama sekali menjadi tahu, karena belajar melalui pelatihan dan pendampingan. 

''Awalnya bener-bener ga tahu babar blasss, gimana cara dan proses membatik,'' ungkapnya saat ditemui di rumahnya, belum lama ini. 
Lambat laun setelah dilatih dia menjadi bisa, harapannya sederhana yakni saat mencanting atau mewarnai kain dengan malam tidak mblobor alias keluar dari gambar. ''Pokoknya seneng bisa membatik, apalagi saat nyanting tidak kaku lagi dan tidak panik saat ketetesan malam,'' tuturnya dengan sumringah.
 
Setelah rutin berlatih dengan pakar batik di kampung tersebut yaitu Zazilah dari Zie Batik dan Umi Salamah dari Salma Batik, Aniyah pun mulai berani memproduksi lembar demi lembar kain batik dengan pewarna alam. Bahkan, dia mulai menjualnya di setiap kesempatan seperti kunjungan tamu di kampungnya hingga pameran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bersama kelompok perajin batik Kampung Malon.

''Meski setiap bulan belum tentu laku satu lembar kain, tapi pas ada yang beli rasanya seneng banget. Kayak beberapa waktu lalu saat ada pesta durian di Gua Kreo, batik cap buatan saya seharga Rp 250 ribu laku dibeli pengunjung,'' katanya.

Walaupun bukan pekerjaan utama, hasil dari membatik bisa menambah pemasukan Aniyah. Bahkan, bisa menyambung hidup keluarganya disamping dari penghasilan yang diperoleh suaminya berdagang Siomay dan Batagor dengan omzet sekitar Rp 100 ribu-Rp 150 ribu/hari.

Pembatik di Kampung Alam Malon sedang melakukan proses melorot atau mencuci kain untuk menghilangkan malam yang menempel

Begitu juga bagi Sadono (61), Mujiyati (33), dan Sukarni (40) yang menjadikan batik sebagai penghidupan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Ketiga pekerja di Batik Zie milik Marheno Wijayanto dan Zazilah yang berada di kampung itu datang dan mulai bekerja pada pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Setiap harinya mereka akrab dengan malam cair saat menyanting atau mewarnai kain. Mereka juga bergelut dengan bau sangit kayu bakar ketika proses melorot atau merebus kain batik untuk menghilang malam yang menempel di kain. 

Mang Ono, begitu panggilan akrab Sadono warga Desa Malon RT 01 RW 06 ini adalah warga pendatang yang memilih bekerja dan menggeluti batik di desa tersebut. Rasa penasaran ingin belajar membatik mendorongnya keluar dari pekerjaannya di bidang gypsum di Bali dan pindah ke Semarang. Setiap hari lelaki paruh baya yang tinggal di Kampung Malon sejak tahun 2011 itu belajar batik sambil bekerja.
''Membatik itu bikin penasaran. Meski rumit dan menantang, tapi sangat menyenangkan,'' tuturnya dengan logat Sunda.

Demikian juga menurut Sukarni dan Mujiyati, bekerja sebagai pembatik tidak hanya mengisi waktu luangnya sebagai ibu rumah tangga. Akan tetapi, juga bisa membantu suami menambah pemasukan keluarga. 

''Daripada di rumah sendiri saat suami kerja, ya lebih baik saya kerja juga. Bisa tambah pinter dan dapat penghasilan,'' tutur Sukarni. 

Begitu juga dengan Mujiyati, yang awalnya hanya magang kerja di Batik Zie kini resmi jadi pembatik disana. ''Suami hanya kerja pabrik, jadi ya harus bantu cari uang. Soalnya anake loro butuh ragat akeh,'' ungkapnya.

0 comments